Beberapa waktu lalu, tepatnya di tanggal 16 Oktober 2025, saya berdiri di atas sebuah panggung untuk menerima penghargaan sebagai Pegiat Literasi Digital Anti-Hoax dalam ajang Anugerah Perempuan Hebat 2025 - Liputan6.com Dokumentasi foto : Liputan6.com Jujur, sampai hari ini saya masih merasa penghargaan itu bukan tentang saya seorang. Karena saat nama saya dipanggil, yang terlintas di kepala justru bukan pencapaian atau prestasi. Yang muncul adalah potongan-potongan perjalanan yang sudah saya lalui selama bertahun-tahun, tentang perjalanan diskusi dan setiap pertemuan kecil yang pernah saya hadiri. Tentang perjalanan menjadi narasumber dari satu kota ke kota lainnya. Saya juga teringat ribuan peserta yang pernah saya temui, dari ibu rumah tangga, guru, mahasiswa, pelaku UMKM, hingga komunitas-komunitas lokal yang memiliki semangat belajar luar biasa. Faktanya, literasi digital perlahan sudah jadi bagian dari perjalanan hidup saya. Bukan sekadar topik yang saya pelajari atau saya samp...
Tidak terasa, perjalanan saya bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi sudah berjalan hampir satu dekade. Dari yang awalnya hanya hadir sebagai perwakilan komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB), hingga akhirnya dipercaya menjalani dua periode sebagai Wakil Ketua Umum Siberkreasi bidang Komunitas dan Kemitraan periode 2020-2023, serta bidang Pengembangan Kolaborasi pada 2023–2025. Selama perjalanan itu, saya belajar satu hal: literasi digital ternyata bukan hanya soal teknologi atau kemampuan menggunakan internet. Lebih dari itu, ini juga tentang manusia, tentang cara kita berpikir, berkomunikasi, membangun empati, hingga bertahan di tengah perubahan dunia digital yang bergerak sangat cepat. Saya masih ingat, tahun 2017 menjadi awal pertama kali saya mengenal Siberkreasi. Saat itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (yang kini menjadi Komdigi) mengundang saya sebagai perwakilan Kumpulan Emak Blogger untuk hadir dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) terkait rencana...