12 Juni 2026, adalah hari di mana sedikit harapan kembali hadir dari mahasiswa dan masyarakat sipil terkait kondisi negara ini. Jujur, setiap kali lihat berita tentang aksi mahasiswa, saya (dulu) biasanya berada di posisi yang sama seperti sebagian banyak orang lain: memilih di balik layar. Cukup melihat potongan video yang lewat di media sosial. Membaca berita. Sesekali ikut berdiskusi di kolom komentar. Lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa. Tapi sudah sejak 3 tahun terakhir ini, saya merasa perlu untuk ikut bersuara langsung bersama masyarakat alias ikut aksi turun ke jalan. Tahun lalu, saya pernah ikut turun ke jalan dalam aksi penolakan UU TNI di kawasan Sarinah bersama Suara Ibu Indonesia. Dan kemarin rasanya beda. Kali ini saya datang dan ikut merapat dengan bagian dari tim logistik (mba Nada Arini dkk) - aliansi ibu, relawan dan masyarakat sipil yang membantu mendukung kebutuhan adik-adik (or anak-anak) mahasiswa di lapangan. Aksi Tolak UU TNI bersama Suara Ibu Indonesi...
Belakangan ini, ada satu hal yang terus mengendap dalam pikiran saya. Bukan karena berita yang ada aja gebrakannya setiap hari. Bukan juga karena lihat angka-angka ekonomi, dollar, bbm naik, dan pejabat kita yang makin hari makin astagfirullah, tetapi juga karena mendengar cerita dari orang-orang di sekitar yang boleh jadi ini juga relate dengan kehidupan teman sekalian Cerita-cerita yang awalnya terdengar biasa saja, atau percakapan di grup pertemanan yang saling bertanya kabar melalui pesan singkat, semua itu bisa saja memicu kondisi yang memengaruhi emosi. Semakin sering mendengarnya, saya mulai menyadari satu pola yang sama. Faktanya, banyak orang yang sedang menghadapi masa yang nggak mudah. Ada yang sedang mencari peluang baru. Ada yang sedang berusaha mempertahankan apa yang sudah dimiliki. Ada yang kehilangan. Ada juga yang harus menunda rencana-rencana yang sebelumnya sudah disusun dengan matang. Bahkan, ada yang nggak tahu harus ngapain. :( Tapi hebatnya, sebagian besar dari ...